Debit air bersih di dua desa yani Desa Kreo dan Buntu Kecamatan Kejajar di wilayah lereng Dieng dua tahun terakhir mengalami penurunan. Diperkirakan menyusutkan air akibat peralihan pengelolaan lahan dari hutan rimbun menjadi lahan pertanian monokultur yang cenderung mengabaikan keseimbangan lingkungan. Menurut Sekretaris Desa Kreo Musliman, bahwa menurunnya debit air bersih dari sumber mata air Kali Katok yang terletak di lereng Perbukitan Desa Serang atau sebelah barat lereng Dieng dirasakan oleh warga sejak dua tahun terakhir. Diperkirakan debit air yang dimanfaatkan 440 Kepala Keluarga (KK) di desanya hingga 30 persen dari sebelumnya.
“ Kalau Dulu dengan ukuran peralon 5 inci bisa penuh, namun sekarang berkurang kadang-kadang hanya separo dari lubang peralon,” katannya.
Musliman menjelaskan, salah satu penyebab menurunnya debit air bersih tersebut diperkirakan karena di lokasi sekitar sumber mata air yang sebelumnya dipenuhi pohon rimbun telah berganti menjadi lahan pertanian dengan pola tanam monokultur dan tidak ada lagi tanaman keras yang tumbuh.
“ Sekarang di sekeliling lokasi Kali Katok ditanami kentang,serta jenis tanaman sayuran lain,” katanya
Selain di Desa Kreo penurunan sumber Mata air bersih juga terjadi di Desa Buntu kecamatan Kejajar Kepala Desa Setempat Ciptadi menuturkan bahwa pada awalnya berkurangnya mata air diperkirakan karena jumlah penduduk di Desanya bertambah. Namun setelah dilakukan pengecekan di lokasi sumber mata air disebelah Desanya saluran airnya tidak penuh lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.
“ Kita belum tahu secara persis penyebabnya, karena setelah dilakukan pengecekan juga tidak ada saluran yang bocor,” katanya
Menurut Ngabidin dari pendamping Tim Kerja Penyelamatan Dieng (TKPD) yang mendampingi dua desa tersebut, bahwa hasil analisis oleh warga Desa Buntu dan Kreo melalui kelompok diskusi masyarakat muncul perkiraan bahwa menuyusutnya sumber mata air merupakan dampak dari pengelolaan lingkungan. Selain peralihan pengolahan lahan, untuk Desa Buntu selama lima tahun terakhir dilakukan penambangan pasir secara besar-besaran.
“Tema diskusi fokus pada persoalan potensi lingkungan, selain sumber mata air juga muncul bahwa tingkat kesuburan lahan menurun karena pengaruh pestisida, warga merasakan hampir tiap tahun hasil panennya menurun,” katanya
Anggota TKPD yang lain Tono menambahkan untuk melakukan pemulihan lingkungan, Pihaknya bersama warga di dua desa tersebut menyusun Rencana pembanguna jangka menengah Desa (RPJM Des) dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat. Perencanaan tersebut akan lebih mendasarkan pada pemetaan potensi sumberdaya alam serta pengelolaannya yang benar-benar memahami dampak terhadap lingkungan.
“Lahan pertanian berpengaruh terhadap sumber air, sumber air juga bergantung pada lahan sekelilingnya, dampaknya tidak hanya kekurangan air, namun secara ekonomi mempengaruhi pendapatan petani karena lahan rusak,”katanya (rase)Diskusi penangan lingkungan di Wonosobo ? buka disini : http://www.forumwonosobo.com/showthread.php?21-Penghijauan-Kembali-Wonosboo&p=31#post31




